Cara membuat piramida dari kertas Bahasa inggris

Sepertinya mengubah smartphone biasa menjadi ponsel yang seakan berkemampuan hologram 3D adalah hal yang tidak mungkin.

Tapi mahasiswa University of Warwick Arun Maini menunjukkan lewat sebuah video di YouTube, betapa mudahnya mewujudkan hal tersebut.

Arun memposting videonya di Youtube 1 Agustus lalu, dan dalam kurun waktu 6 hari sudah diklik lebih dari 5,5 juta kali.

Triknya menggunakan kaca atau plastik untuk memperoleh sudut pandang dari smartphone yang bisa memutarkan video-video hologram.

Mahasiswa ini menjelaskan: "Seorang teman menunjukkan caranya kepada saya. Jadi saya hanya membuat video yang menjelaskan langkah-langkahnya, supaya bisa ditiru orang lain."

Apa saja benda-benda yang dibutuhkan untuk membuat hologram di smartphone? Kertas grafik, penggaris, kotak CD, selotip atau lem, pulpen, gunting, smartphone, pisau atau pemotong kaca.

Pertama-tama, Anda memerlukan kertas grafik, pulpen dan penggaris untuk menggambar trapesium yang menjadi cetak biru alat tersebut.

Di video, dimensi yang digunakan adalah 1 cm x 3,5 cm x 6 cm. Tapi ukuran ini bisa dibuat dua kali lipat atau tiga kali lipat untuk mendapat efek yang lebih baik.

Berikutnya, kotak CD dan pisau tajam diperlukan untuk membentuk sisi proyektor holografik.

Gunakan cetak biru trapesium saat memotong bentuk dari plastik kotak CD. Anda memerlukan empat trapesium dalam ukuran yang sama.

Keempat potongan tersebut dibentuk menjadi piramida terbalik. Anda bisa merekatkannya dengan selotip atau lem kuat.

Lalu letakkan di atas smartphone Anda saat memainkan video YouTube khusus untuk keperluan ini. Seperti misalnya video ini: https://www.youtube.com/watch?v=FounIsUgNjg

Bagaimana cara kerjanya? Kotak CD memberikan refleksi yang cukup untuk memantulkan cahaya dari citra yang dimainkan di layar smartphone.

Karena plastiknya transparan, Anda bisa melihat langsung melaluinya. Sebuah ilusi terwujud yang seakan merefleksi obyek yang melayang di udara.

Karena video diproyeksikan pada semua sisi reflektor, atraksi "hologram" bisa dilihat dari setiap sudut di ruangan. Dan ini menambah efek ilusi adanya fisik obyek yang diproyeksikan.

Anda ingin mencobanya? Jangan lupa mengirimkan foto atau videonya kepada kami melalui Facebook DW Indonesia jika berhasil.

Misteri mengenai sejarah Piramida dan siapa yang membangun bangunan raksasa itu selalu menarik untuk dibahas. 

Piramida merupakan bangunan peninggalan zaman Mesir kuno, yang difungsikan sebagai pemakaman.

Karena keunikan dan kemegahannya, beredar berbagai teori tentang siapa yang membangun piramida Mesir, mulai dari orang-orang Yahudi, penduduk kota Atlantis yang hilang, hingga alien.

Namun, tak satu pun dari teori tersebut dapat dibuktikan.

Berikut beberapa temuan para peneliti dan arkeolog terkait siapa yang membangun piramida Mesir dan sejarah perbudakan di baliknya.

Baca juga: Arkeolog Temukan Struktur Batu Kuno di Arab Saudi, Usianya Lebih Tua dari Piramida Mesir

Bukan orang Yahudi, Atlantis atau alien

Dilansir dari Live Science, 15 Mei 2021, sejumlah ahli arkeologi membantah piramida Giza yang berada di Mesir dibangun oleh budak Yahudi.

Hal ini karena tidak ditemukannya sisa-sisa arkeologi yang dapat dikaitkan langsung dengan orang-orang Yahudi, yang berasal dari 4.500 tahun yang lalu, ketika piramida Giza dibangun.

Selain itu, kisah yang diceritakan dalam Alkitab Ibrani tentang orang-orang Yahudi yang menjadi budak di Mesir mengacu pada sebuah kota bernama Ramesses.

Kota bernama pi-Ramesses didirikan selama dinasti ke-19 (sekitar 1295-1186 sebelum Masehi) dan dinamai Ramses II, yang memerintah 1279–1213 SM.

Adapun kota ini dibangun setelah era pembangunan piramida berakhir di Mesir.

"Kami tidak memiliki petunjuk, bahkan satu kata pun, tentang orang Israel awal di Mesir: baik dalam prasasti monumental di dinding kuil, atau di prasasti makam, atau di papirus," tulis arkeolog Israel Finkelstein dan Neil Asher Silberman dalam buku mereka The Bible Unearthed: Archaeology's New Vision of Ancient Israel and the Origin of its Sacred Texts.

Terkait dengan kota Atlantis yang hilang, arkeolog dan peneliti menyatakan bahwa itu hanyalah cerita fiksi, sama halnya dengan cerita alien membangun piramida Mesir.

Faktanya, semua bukti menunjukkan bahwa yang membangun piramida adalah orang Mesir kuno.

Namun, di balik kemegahannya, para ahli masih menyelidiki bagaimana proses pembangun, termasuk kompensasi dan perlakuan terhadap orang-orang Mesir kuno yang membangun piramida itu.

Baca juga: [HOAKS] Foto Bendera Palestina Menyala di Piramida Giza

Piramida pertama

Piramida Mesir kuno adalah pemakaman yang dibangun selama 2.700 tahun, mulai dari awal Old Kingdom Mesir hingga akhir periode Ptolemeus.

Namun saat pembangunan piramida mencapai puncaknya, usia piramida par excellence, dimulai pada dinasti ke-3 dan berakhir kira-kira pada abad ke-6 (sekitar 2686–2325 SM).

Melansir Britannica, firaun Djoser, raja kedua dari dinasti ke-3 (sekitar 2630-2611 SM), yang mempekerjakan Imhotep sebagai arsitek, untuk pertama kalinya melakukan pembangunan mastaba yang seluruhnya terbuat dari batu.

Mestaba merupakan istilah Arab yang berarti makam dari bata lumpur atau batu, berbentuk miring dan atap datar.

Djoser meminta bangunan mestaba itu setinggi 8 meter dan memiliki dasar persegi, dengan sisi masing-masing sekitar 63 meter.

Semakin ke atas, ukuran keliling persegi itu semakin kecil. Namun dalam pembangunannya, mastaba Djoser menjadi struktur bertingkat dengan ketinggian 60 meter, serta dasar persegi 120 meter kali 108 meter.

Monumen ini terletak di Aqqrah dan dikenal sebagai Piramida Tangga.

Arkeolog memperkirakan bahwa ini adalah bangunan batu paling awal yang didirikan di Mesir.

Substruktur piramida ini memiliki sistem koridor dan ruangan bawah tanah yang rumit, bagian poros tengahnya sedalam 25 meter dan lebar 8 meter, di bagian bawahnya terdapat ruang makam yang dibangun dari granit Aswn.

Baca juga: 74 Tahun Hilang, Artefak Mesir Petunjuk Piramida Besar Ditemukan

100 piramida

Mesir memiliki lebih dari 100 piramida. Setelah pembangunan piramida pertama, pemerintahan firaun Snefru (sekitar 2575-2551 SM) mulai membangun piramida yang sisi luarnya halus.

Sementara itu, Piramida Agung di Giza dibangun pada masa pemerintahan firaun Khufu (sekitar 2551-2528 SM). Dua penerusnya, Khafre (sekitar 2520-2494 SM) dan Menkaure (sekitar 2490-2472 SM), juga memiliki piramida yang dibangun di Giza.

Firaun secara bertahap berhenti membangun piramida selama Kerajaan Baru (1550-1070 SM), raja-raja ini memilih untuk dimakamkan di Lembah Para Raja, yang terletak sekitar 483 km selatan Giza.

Proses pembangunan Piramida

Catatan tertulis berupa papirus (bahan kertas pada zaman kuno) yang ditemukan pada 2013 di Wadi al-Jarf, pantai Laut Merah Mesir, menunjukkan bahwa kelompok besar pekerja, yang kadang diterjemahkan sebagai geng, membantu membawa material ke Giza.

Papirus yang ditemukan di Wadi al-Jarf menceritakan tentang sebuah kelompok beranggotakan 200 orang yang dipimpin oleh seorang inspektur bernama Merer.

Rombongan pekerja ini mengangkut batu kapur dengan perahu di sepanjang Sungai Nil, yang berjarak sekitar 18 kilometer dari Tura ke Piramida Besar, di mana batu itu digunakan untuk membangun selubung luar monumen.

Di masa lalu, ahli Mesir Kuno piramida dibangun oleh pekerja pertanian musiman. Namun, papirus terbaru menepis teori tersebut.

Kelompok pekerja diduga melaksanakan berbagai proyek konstruksi sepanjang Gurun Sinai.

Hal ini menimbulkan pertanyaan lain, apakah mereka adalah bagian dari kelompok pekerja profesional yang lebih permanen daripada sekelompok pekerja pertanian musiman.

Baca juga: Berisi Piramida Giza hingga Kiamat, Catatan Isaac Newton Ini Dilelang

Makanan pekerja pembuat Piramida

Seorang profesor Mesir Kuno di Universitas Paris-Sorbonne, Pierre Tallet mengungkapkan bahwa berdasarkan papirus, para pekerja diberi makanan diet, berupa kurma, sayuran, unggas, dan daging.

Selain diet sehat, papirus menggambarkan anggota tim kerja ini mendapatkan bahan tekstil yang kemungkinan dianggap semacam uang pada waktu itu.

Selain itu, pejabat di posisi tinggi yang terlibat dalam konstruksi piramida kemungkinan menerima hibah tanah.

Namun, menurut lembaga penelitian yang berbasis di Massachusetts, catatan sejarah menunjukkan bahwa kadang-kadang dalam sejarah Mesir, hibah tanah diberikan kepada pejabat. Namun, tidak diketahui apakah hibah tanah juga diberikan kepada pejabat yang terlibat dalam pembangunan piramida.

Perawatan medis

Para arkeolog telah menemukan bukti bahwa penduduk kuno kota ini biasa memanggang roti dalam jumlah besar, menyembelih ribuan hewan, dan membuat bir dalam jumlah banyak.

Berdasarkan tulang hewan yang ditemukan di lokasi, dan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi para pekerja, para arkeolog memperkirakan sekitar 1.800 kilogram hewan, termasuk sapi, domba dan kambing disembelih setiap hari, rata-rata, untuk memberi makan para pekerja.

Berdasarkan penelitian terhadap mayat para pekerja yang dikubur dekat piramida, menunjukkan ada jejak penyembuhan tulang yang dipasang dengan benar.

Hal ini membuktikan bahwa para pekerja ini mendapat akses dan perawatan medis.

Makanan berlimpah, dikombinasikan dengan bukti perawatan medis, dan menerima tekstil sebagai bentuk pembayaran, membuat ahli Mesir Kuno umumnya setuju bahwa para pekerja bukanlah orang yang diperbudak.

Kendati demikian, temuan ini tidak membuktikan bahwa semua pekerja mendapat akomodasi yang sama.

Baca juga: Siapa yang Membangun Piramida Mesir? Ini Petunjuk yang Ditemukan Ahli

Feodalisme Mesir

Direktur Ancient Egypt Research Associates (AERA) sekaligus egyptologist, Mark Lehner telah meneliti sejarah Mesir bersama dengan timnya.

Berdasarkan penggalian AERA, menunjukkan bahwa beberapa pejabat tinggi tinggal di rumah besar dan memiliki potongan daging pilihan. Sebaliknya, Lehner menduga bahwa para pekerja berpangkat lebih rendah kemungkinan besar tidur di tempat tinggal sederhana atau bahkan bersandar di piramida untuk beristirahat.

Melansir Majalah Harvard, Juli-Agustus 2003, George Reisner dari Harvard menemukan grafiti pekerja di awal abad kedua puluh yang mengungkapkan bahwa para pembangun piramida diorganisasikan ke dalam unit-unit pekerja dengan nama seperti "Teman Khufu" atau "Pemabuk Menkaure".

Di dalam unit-unit ini ada lima divisi (peran mereka masih belum diketahui), yang bertugas di kuil piramida. Oleh karena itu, banyak ahli Mesir Kuno menganut hipotesis bahwa piramida juga dibangun oleh tenaga kerja shift atau organisasi berbasis tim.

Mark Lehner berpendapat bahwa masyarakat Mesir berada dalam sistem feodal, di mana hampir semua orang wajib melayani mereka yang berada di atas hierarki sosial. Orang Mesir menyebutnya "bak".

"Tapi itu tidak benar-benar berfungsi sebagai kata untuk perbudakan. Bahkan pejabat tertinggi berutang bak," kata Lehner.

Terlepas dari budak atau bukan, saat musim terakhir penggaliannya dimulai, Lehner masih tidak tahu di mana semua pekerja tidur.

Jika beberapa tahun mendatang dokumentasi, publikasi, dan tinjauan sejawat membuktikannya, temuan Lehner akan menunjukkan bahwa orang Mesir kuno bahkan lebih maju dalam organisasi sosial mereka.